Kasiman Perangin-angin

Anak bangsa mencari jati diri.

Archive for the ‘Rohani’ Category

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Posted by Kasiman Peranginangin on 19 September 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H

Mohon Maaf Lahir & Batin

Posted in Rohani | Leave a Comment »

Berkat-Nya atau Pribadi-Nya

Posted by Kasiman Peranginangin on 12 August 2009

Seorang ayah setiap pulang dari luar kota , atau berpergian dari jauh, sering membawakan hadiah berupa mainan kepada anaknya yang masih kecil. Dia ingin melalui pemberian tersebut, anaknya akan dekat dengannya. Itulah cara yang paling sederhana dilakukannya untuk melepas kangen. Namun, ada waktunya ia cukup sedih ketika mainan yang ia berikan tersebut justru menjauhkan ia dari anaknya. Ternyata anaknya sekarang justru lebih asyik dengan mainan yang dia berikan, daripada dengan dia yang memberikan mainan tersebut.

Terkadang itu juga merupakan gambaran kita dengan Tuhan. Begitu sering Tuhan memberkati kita dan memberikan yang terbaik kepada kita dengan tujuan agar kita dekat dengan DIA. Nyatanya yang terjadi tidak seperti itu, kita sekarang lebih asyik dengan berkat yang DIA berikan sehingga kita hampir-hampir tidak memiliki waktu untuk Sang Pemberi berkat. Jika kita yang adalah bapa di dunia saja pasti kecewa melihat reaksi anak kita yang seperti itu, demikian juga hati Bapa ketika melihat berkat yang Dia beri justru menjauhkan kita dari-Nya.

Orang tua pasti akan lebih kecewa lagi jika ternyata anaknya tidak pernah kangen dengan dia, tapi “kangen” dengan mainan atau oleh-oleh yang dibawaya. Demikian juga kita bisa membayangkan hati Bapa di Surga saat kita tidak pernah merindukan Pribadi-Nya, tapi hanya merindukan berkat-berkat- Nya.

Sesungguhnya tidak ada yang paling menyenangkan Tuhan di saat kita selalu rindu untuk berjumpa, bersekutu dan menjalin keintiman dengan-Nya.

Jadilah anak Tuhan Yang dewasa yang merindukan pribadi-Nya lebih dari berkat-berkatNya.

” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”
( Yohanes 6 : 26 )

Posted in Rohani | Leave a Comment »

Selamat Paskah 2009

Posted by Kasiman Peranginangin on 11 April 2009

Kasih Kristus yang telah mati di kayu salib dan bangkit kembali untuk seluruh umat manusia selalu menyertai kita sekalian. Amin

Posted in Rohani | Leave a Comment »

Hidup untuk apa?

Posted by Kasiman Peranginangin on 10 March 2008

Apa tujuan hidup Anda? cobalah sejenak memikirkan, merenungkan, dan
menggumuli pertanyaan itu. Itu penting agar hidup kita tidak seperti
layangan putus, terombang-ambing.

Tuhan menciptakan dan memberi kita hidup, tentunya tidak sekedar untuk
mati. Pasti ada misi bagi kita. Ada dua misi, yaitu misi individual
dan misi universal. Misi universal yang berlaku bagi semua orang
percaya adalah menjadi garam dan terang dunia.

Garam dapat mencegah pembusukan daging dan memberi cita rasa pada
makanan. Orang romawi dulu bahkan menganggap garam sebagai benda
paling bersih dan jernih, karena berasal dari dua benda yang juga
paling bersih dan jernih, yaitu matahari dan laut. Karena itu, garam
selalu dihubungkan dengan kemurnian.

Adapun Terang memampukan kita untuk membedakan jalan yang benar dan
salah. Terang juga dapat menjadi alat penyelamatan. Dan banyak lagi
manfaat terang. Bahkan sesungguhnya, tapa terang dunia, tidak akan
pernah ada kehidupan.

Itulah misi kita yang sesungguhnya, menjadi garam dan terang. Apakah
orang-orang di sekitar kita betul-betul bersyukur dengan kehadiran
kita? Pertanyaan ini baik menjadi bahan intropeksi kita, untuk menilai
sejauh mana kita sudah mengemban misi kita.

Ada seorang yang sejak muda sangat gigih untuk mengejar keberhasilan.
Dan betul, ia berhasil. Ia tidak saja menjadi orang sangat kaya, tapi
juga pandai dan punya jabatan tinggi. Semua orang terkagum-kagum
dengan kesuksesannya. Tetapi, ketika ia sudah tua dan pensiun, ia
menengok kehidupan yang sudah ia jalani, dan merasa sangat hampa.
“Semua itu seperti usaha menjaring angin,” katanya mengutip kitab
Pengkhotbah, “sia-sia di atas segala kesia-siaan. “

Kita semua pada dasarnya sedang menunggu giliran untuk bertemu dengan
kematian. Hari ini si Polan, kemarin si Pulin, besok entah siapa lagi.
Suatu saat akan tiba giliran kita. Entah kapan, tetapi pasti.
Pertanyaannya, apa yang akan dikenang orang ketika kita tiada? Akankah
kita hilang dan dilupakan?

Ada cerita tentang seorang pria yang mempunyai 4 istri. Suatu saat
pria itu sakit parah, dan sudah hampir mati. Ia ingin istrinya
menemani sampai pada kematiannya. Maka, dipanggillah istri ke empat,
wanita yang cantik jelita dan seksi. “Istriku, aku akan mati. Temani
aku, sampai aku mati,” pintanya.

“Menemanimu sampai mati? Tidak, aku tidak mau,” jawab si istri sambil
pergi tanpa menoleh lagi kepadanya.

Istri ketiga dipanggil, wanita dengan berpenampilan modis dan trendi.
Permintaan yang sama dia ajukan. “Apa? Menemanimu sampai mati?”
sahutnya. “Tidak mau. Lebih baik aku menikah lagi.”

Istri kedua dipanggil, wanita berpenampilan biasa. Kepadanyalah sang
suami sering meminta pendapat tentang berbagai hal. “Istriku, tak lama
lagi aku akan mati, aku ingin sekali kamu ikut denganku,” pinta si suami.

“Aku tidak bisa sekalipun aku mau,” jawab si istri. “Aku hanya bisa
menemanimu sampai lubang kubur.”

Terakhir, Istri pertama, wanita sederhana. Permintaan yang sama
diajukan padanya, “Suamiku,” jawab sang istri. “Tidak usah khawatir.
Tanpa kamu minta, aku akan menyertaimu selamanya, bahkan sampai pada
kematianmu.”

Pada dasarnya, kita memiliki empat “istri”. Yang pertama, tubuh
jasmani kita. Betapa pun baiknya kita menjaga dan merawatnya, tubuh
jasmani akan meninggalkan kita, hilang tanpa bekas. Yang kedua adalah
kekayaan dan jabatan. Ketika meninggal, kita tidak akan membawanya
serta, dan justru akan beralih keorang lain. Ketiga adalah
teman-teman, kerabat dekat, dan keluarga kita; seberapa pun besarnya
kasih sayang mereka kepada kita, mereka hanya bisa mengantar kita
sampai ke lubang kubur, tidak lebih. Yang keempat adalah iman dan
karya kita selama hidup didunia, yang akan menyertai kita sampai mati.

Maka, benarlah kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau
mati meninggalkan belang, sedang manusia mati meninggalkan karya;
Karya untuk Tuhan dan sesama. Dengan menjadi garam dan terang dunia;
kita dapat membuat dunia ini lebih baik.

Sumber:
http://renungan- harian-kita. blogspot. com/

Posted in Rohani | Leave a Comment »